neverland blog

Selasa, 28 Januari 2014

MAKALAH Fasciola hepatica



A.           Pendahuluan
Fasciola hepatica merupakan trematoda hati yang sering menginfeksi domba, karena itu cacing ini disebut sebagai sheep liver fluke. Cacing dewasa hidup didalam saluran empedu bagian proksimal dan didalam kantung empedu hospes definitif yaitu manusia dan herbivora.
Infeksi dengan Fasciola hepatica disebut fasciliasis yang tersebar luas di berbagai daerah diseluruh dunia.

B.            Anatomi dan Morfologi
Fasciola hepatica mempunyai ukuran panjang tubuh antara 20 dan 30 mm. Bentuk cacing dewasa pipih seperti daun yang mempunyai tonjolan khas didaerah anterior (chepalic alae), sehingga memberi gambaran seperti bahu.
Sucker, terdapat dua jenis alat isap, yaitu oral sucker dan ventral sucker yang sama ukuran besarnya.
Usus, Fasciola hepatica mempunyai usus yang mempunyai cabang – cabang lateral yang mencapai ujung distal dari sekum.
Alat reproduksi, ovarium dan testis cacing ini bercabang, sedangkan  uterusnya melingkar.
Vitellaria, mempunyai percabangan yang intensif dan tersebar luas ke seluruh jaringan parenkim cacing.
Telur, bentuk telur cacing lonjong, mempunyai operkulum. Ukuran panjang telur antara 130 – 150 mikron dan lebar 63 – 90 mikron. Waktu telur keluar dari tubuh hospes definitif, telur belum berembrio dan tidak infektif.

Anatomi Dan Morfologi
Keterangan
1.      Telur


          a.       Telur berukuran ± 140 x 80 mikron.
          b.      Operkulum kecil, berisi morula
2.      Cacing dewasa

         a.       Cacing dewasa berukuran panjang ± 2,5 cm.
     b.     Batil isap kepala dan batil isap perut berdekatan, bagian kepala seperti kerucut, dua sekum bercabang-cabang, ovarium bercabang-cabang dan dua testis juga bercabang, kelenjar vitelaria hampir mengisi seluruh bagian tubuhnya.

C.           Daur Hidup
Hospes definitif cacing ini adalah manusia dan herbivora, sedangkan siput air tawar Lymnea bertindak sebagai hospes perantara utama. Hospes perantara yang kedua adalah tanaman air atau rumput, yang menjadi tempat berkembangnya kista metaserkaria yang merupakan stadium infektif cacing ini.
Jika telur cacing yang keluar bersama tinja masuk ke dalam air, dalam waktu 9 – 15 hari di dalam telur akan terjadi pertumbuhan mirasidium. Setelah menetas mirasidium akan berenang mencari siput yang menjadi hospes perantara pertama. Di alam tubuh siput mirasidium tumbuh menjadi sporokista, redia, dan selanjutnya berkembang menjadi serkaria (cercaria). Serkaria akan keluar dari tubuh siput dan berenang untuk mencari tumbuhan air atau rumput dan berubah menjadi kista metaserkaria yang infektif.
Description: C:\Users\isna\Documents\DAUR HIDUP.jpg
(siklus hidup Fasciola hepatica)
Jika manusia termakan stadium infektif (kista metaserkaria) yang terdapat pada tumbuhan air, di dalam duodenum metaserkaria akan lepas dari jaringan tanaman air, melakukan migrasi melalui dinding usus dan mencapai hati melalui aliran darah. Sebagian besar metaserkaria akan mencapai saluran empedu, kemudian akan berkembang menjadi cacing dewasa.

D.           Gejala klinis
Fasciola hepatica dewasa dapat menyebabkan keradangan pada saluran empedu, menimbulkan atrofi pada parenkim hati dan kemudian dapat terjadi sirosis periportal. Dari usus cacing mengadakan migrasi ke hati yang dapat menimbulkan lesi ektropik di dinding usus, jantung, bola mata, paru, dan jaringan di bawah kulit. Terjadinya penyakit halzoun (laringofaringitis) pada penduduk Afrika Utara dan Timur Tengah disebabkan adanya kebiasaan penduduk daerah tersebut makan organ hati dalam keadaan mentah yang mengandung cacing Fasciola hepatica muda yang kemudian melekat di mukosa faring.

E.            Diagnosis
Pada penderita fasciolasis terjadi hepatomegali disertai sindrom demam eosinofilik. Untuk menegakkan diagnosis pasti terjadinya infeksi dengan Fasciola hepatica harus dilakukan pemeriksaan tinja dan empedu penderita untuk menemukan telur cacing yang khas bentuknya.
Pemeriksaan serologi misalnya uji fiksasi komplemen atau tes intradermal dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis fasciolasis hepatica.

F.            Pengobatan
Sebagai obat pilihan terhadap fasciolasis hepatica adalah Prazikuantel yang diberikan dengan dosis 25 mg/kg berat badab 3x sehari atau diberikan sebagai dosis tunggal sebesar 40 g/kg berat badan selama satu atau dua hari.
Selain itu dapat diberikan Emetinhidroklorida sebanyak 30 mg/ setiap hari selama 18 hari melalui suntikan intramuskuler. Diklorofenol atau bitinol juga dapat digunakan untuk mengobati infiksi Fasciola hepatica.



G.           Pencegahan
Penyebaran fasciolasis dapat dicegah dengan mengobati setiap penderita dengan baik. Daur hidup parasit dapat diputuskan dengan memberantas siput yang menjadi hospes perantara pertama. Larva infektif yaitu metaserkaria dapat dibasmi dengan memasak dengan baik sayuran yang akan dimakan.
Penyakit halzoun dapat dicegah dengan tidak makan organ hati dalam keadaan mentah, tetapi harus dimasak lebih dahulu.

H.           Daftar Pustaka
Soedarto.2011. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Surabaya : Sagung seto
Subiyono, dkk.2012. Diktat Petunjuk dan Laporan Praktikum Parasitologi. Yogyakarta : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Jurusan Analis Kesehatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar