neverland blog

Minggu, 02 Februari 2014

makalah sabun dan detergen



                                                                                                                              I.         Definisi Sabun dan Detergen


 A.      Definisi Detergen
Deterjen merupakan campuran berbagai bahan, juga terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi yang digunakan untuk membantu pembersihan. Deterjen adalah garam dari sulfonat atau sulfat berantai panjang dari natrium (RSO3- Na+ dan ROSO3-Na+). Deterjen mempunyai keunggulan dalam hal tidak mengendap bersama logam dalam air (Senja 2010).
2 RSO3Na + Ca2+           (RSO3)2 Ca + 2 Na2+
Detergen merupakan garam Natrium dari asam sulfonat.
Rantai hidrokarbon, R, di dalam molekul sabun di atas mungkin adalah rantai hidrokarbon yang lurus atau rantai hidrokarbon yang bercabang.


Bahan penyusun deterjen
Dalam deterjen terdapat beberapa bahan penyusun, di antaranya:
1. Surfaktan
Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai gugus yang berbeda yaitu hidrofilik (suka air), gugus yang tertarik pada senyawa polar dan hidrofobik (suka lemak), gugus yang tertarik pada senyawa non polar, Surfaktan berfungsi menghilangkan atau mengendapkan kotoran dalam larutan dan sebagai pengemulsi (Timurti Betty Cahya dkk. 2009).
Surfaktan yang digunakan pada deterjen adalah jenis surfaktan anionik yaitu LAS (Linier Alkil Benzena Sulfonat). Surfaktan anionik dalam deterjen ini berfungsi sebagai zat pembasah yang akan masuk ke dalam ikatan antara serat kain dan kotoran yang menyebabkan kotoran menjadi menggulung sehingga menjadi besar dan akhirnya terlepas dari serat kain.

2. Builder (pembentuk)
Builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci surfaktan dengan cara menonaktifkan mineral penyebab kesadahan air. Selain itu builder juga dapat membantu menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung lebih baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah dilepas.
Contoh dari builder, antara lain:
a. Fosfat : Sodium Tri Poly Phosphate (STPP)
b. Asetat : Nitril Tri Acetate (NTA), Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA)
c. Silikat : Zeolit
d. Sitrat : Asam sitrat
Builder yang biasa dimanfaatkan di dalam deterjen adalah fosfat dalam bentuk senyawaan Sodium Tri Poly Phospate (STPP). Fosfat mempunyai fungsi penting dalam deterjen yaitu sebagai softener air. Fosfat juga mampu menurunkan kesadahan air dengan cara mengikat ion Ca2+ dan Mg2+.

3. Filler (pengisi)
Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas berat jenis dari deterjen. Contoh filler yang biasa digunakan adalah natrium sulfat.

4. Additives (aditif)
Aditif adalah bahan tambahan untuk pembuatan produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelembut, pemutih dan pewarna yang tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Aditif ditambahkan juga untuk mengkomersialkan produk. Contoh aditif, antara lain: enzim, boraks, natrium klorida dan Carboxy Methy cellulose (CMC) digunakan agar kotoran yang telah dibawa oleh deterjen ke dalam larutan tidak kembali lagi ke bahan cucian pada waktu mencuci (anti redeposisi).

B.       Definisi Sabun
Sabun adalah suatu gliserida (umumnya C16 dan C18 atau karboksilat suku rendah) yang merupakan hasil reaksi antara ester (suatu derivat asam alkanoat yaitu reaksi antara asam karboksilat dengan alkanol yang merupakan senyawa aromatik dan bermuatan netral) dengan hidroksil dengan residu gliserol (1.2.3 – propanatriol). Apabila gliserol bereaksi dengan asam – asam yang jenuh (suatu olefin atau polyunsaturat) maka akan terbentuk lipida (trigliserida atau triasilgliserol).
Gliserida (lelehan lemak sapi atau lipida lain) dididihkan bersama – sama dengan larutan lindi (dulu digunakan  abu kayu karena mengandung K-karbonat tapi sekarang NaOH) terjadi hidrolisis menjadi gliserol dan garam Sodium dari asam lemak, setelah sabun terbentuk kedalamnya ditambahkan NaCl agar sabun mengendap dan dapat dipisahkan dengan cara penyaringan. Gliserol, lindi dan NaCl berlebih dipisahkan dengan cara destilasi. Sabun yang masih kotor dimurnikan dengan cara pengendapan berulang – ulang (represipitasi). Akhirnya ditambahkan zat aditif (batu apung, parfum dan zat pewarna)
Jenis – jenis Sabun :
1.      Sabun keras atau sabun cuci.
Dibuat dari lemak dengan NaOH, misalnya Na – Palmitat dan Na – Stearat.
2.      Sabun lunak atau sabun mandi.
Dibuat dari lemak dengan KOH, misalnya K-Palmitat dan K-Stearat
Suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang plus ujung ion. Bagian hidrokarbon dari molekul itu bersifat hidrofobik dan larut dalam zat – zata non polar, sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut dalam air. Karena adanya rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara keseluruhan tidaklah benar – benar larut dalam air. Namun sabun mudah tersuspensi dalam air karena membentuk misel (micelles), yakni kumpulan (50 – 150) molekul sabun yang rantai hidrokarbonnya mengelompok dengan ujung – ujung ionnya menghadap ke air.


                                                                                                                         II.          Klasifikasi Deterjen dan Sabun

Berdasarkan senyawa organik yang terkandung di dalamnya, deterjen dikelompokkan menjadi :
A.      Deterjen Anionik
Deterjen jenis ini merupakan deterjen yang mengandung surfaktan anionik yang dinetralkan dengan alkali. Deterjen ini akan berubah menjadi partikel bermuatan negatif jika dilarutkan dalam air. Biasanya digunakan untuk pencuci kain. Kelompok utama dari deterjen anionik, antara lain: rantai panjang (berlemak) alkohol sulfat, alkil lauril sulfonat dan olefin sulfat dan sulfonat.
B.       Deterjen Kationik
Deterjen jenis ini merupakan deterjen yang mengandung surfaktan kationik. Deterjen ini akan berubah menjadi partikel bermuatan positif jika dilarutkan dalam air. Biasanya digunakan pada pelembut (softener). Selama proses pembuatannya tidak dilakukan netralisasi tetapi bahan-bahan yang mengganggu dihilangkan dengan asam kuat untuk netralisasi. Zat aktif permukaan kationik mengandung kation rantai panjang yang memilki sifat aktif pada permukaannya.
Kelompok utama dari deterjen kationik, antara lain:
1.    Amin Asetat (RNH3)OOCCH3 (R = 8-12 atom C)
2.    Alkil trimetil amonium klorida (RN(CH3))3+ (R=8-18 atom C)
3.    Dialkil dimetil amonium klorida (R3N(CH3)2)+Cl- (R = 8-18 atom C)
4.    Lauril dimetil benzil amonium klorida (R2N(CH3)2CH2CH2CH6)Cl


C.       Deterjen Nonionik
Deterjen jenis ini merupakan senyawa yang tidak mengandung molekul ion sementara, kedua asam dan basanya merupakan molekul yang sama. Deterjen ini tidak akan berubah menjadi partikel bermuatan jika dilarutkan dalam air tetapi deterjen ini dapat bekerja di dalam air sadah dan dapat mencuci dengan baik .
Kelompok utama dari jenis deterjen ini, antara lain:
Etilen oksida atau propilen oksida dan polimer polioksistilen
HO (CH2CH2O)a (CH(CH3)CH2O)b (CH2CH2O)cH


D.      Deterjen Amfoterik
Merupakan deterjen yang mengandung kedua kelompok kationik dan anionik. Deterjen ini dapat berubah menjadi partikel positif, netral, atau negatif bergantung pada pH air yang digunakan. Biasanya digunakan untuk pencuci alat-alat rumah tangga. Kelompok utama dari deterjen jenis ini, antara lain: Natrium LaurilSarkosilat dan Natrium Mirazol


                                                                                                                               III.  Sifat - sifat Sabun dan Detergen


A.    Sifat-sifat Sabun  :

1.      Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa.
CH3(CH2)16COONa + H2O CH3(CH2)16COOH + OH-

2.      Jika larutan sabun dalam air diaduk maka akan menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan buih setelah garam-garam Mg atau Ca dalam air mengendap.
CH3(CH2)16COONa + CaSO4 Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2

3.      Sabun mempunyai sifat membersihkan.
Sifat ini disebabkan proses kimia koloid, sabun (garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun non polar, karena sabun mempunyai gugus polar dan non polar. Molekul sabun mempunyai rantai hydrogen CH3(CH2)16 yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) dan larut dalam zat organic sedangkan COONa+  bersifat hidrofilik (suka air) dan larut dalam air.
1.    R- ( non polar dan Hidrofobik )
Membelah molekul minyak dan kotoran menjadi partikel yang lebih kecil sehingga air mudah membentuk emulsi dengan kotoran dan mudah dipisahkan
2.    -C-O- ( polar dan Hidrofilik )
Larut dalam air membentuk buih dan mengikat partikel – partikel kotoran sehingga terbentuk  emulsi.

B.     Sifat-sifat Detergen
Sifat fisis dan kimia detergen
1.    Fisis
a.    Ujung non polar : R – O (hidrofob)
b.    Ujung polar : SO3Na (hidrofil)
2.    Kimia
a.     Dapat melarutkan lemak
b.    Tak dipengaruhi kesadahan air

Sifat fisis detergen antara lain memiliki ujung non polar yang berupa R - O (hidrofob) dan ujung polar yang berupa SO3Na (hidrofil). Angka penyabunan menunjukkan berat molekul lemak dan minyak secara kasar .Minyak yang disusun oleh asam lemak berantai karbon yang pendek berarti mempunyai berat molekul yang relatif kecil, akan mempunyai angka penyabunan yang besar dan sebaliknya bila minyak mempunyai berat molekul yang besar ,maka angka penyabunan relatif kecil . Angka penyabunan ini dinyatakan sebagai banyaknya (mg) NaOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram lemak atau minyak.

                                             IV.  Efek terhadap Lingkungan secara Umum Khususnya pada Kesehatan Manusia

Deterjen biasanya menggunakan Jenis surfaktan alkylbenzene sulphonate (ABS) yang bersifat resisten terhadap dekomposisi biologis. Hal ini bisa berarti jika ABS atau alkilbenzene sulfonat ini sukar diuraikan secara biologis oleh bakteri. Dewasa ini, surfaktan jenis ABS telah digantikan oleh linear alkyl sulphonate (LAS) yang dapat diuraikan oleh bakteri secara biologis (biodegradeble). LAS memiliki tingkat biodegradasi sebesar 90% sedangkan ABS hanya sebesar 50-60%. Surfaktan juga memiliki dampak negatif antara lain :
A.    Mengganggu transfer gas di dalam sel.
Jika surfaktan bereaksi dengan sel dan membran sel maka surfaktan akan menganggu pertukaran gas yang berlangsung antar sel. Pertukaran oksigen yang tidak berlangsung dengan lancar akan mengakibatkan pertumbuhan sel terhambat.
B.     Surfaktan dapat menyebabkan permukaan kulit kasar, hilanganya kelembaban alami kulit, dan meningkatkan permeabilitas permukaan luar.
C.     Derajat keasaman (pH) deterjen yang tinggi
Menyebabkan tangan iritasi (panas, gatal, dan mengelupas).

Selain surfaktan deterjen juga mengandung builder (bahan pembentuk). Builder berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air. Contoh dari builder adalah Sodium tri poly phosphate (STPP), Nitril tri acetate (NTA), Ethylene diamine tetra acetate (EDTA), zeolit, dan  asam sitra. Air yang mengandung fosfat dapat menyebabkan keracunan apabila terminum oleh manusia. Menurut Damin Sumardjo (2008: 630), persenyawaan fosfat anorganik yang dipakai sebagai builder (bahan pengawet busa) ternyata dapat mencemari air seperti persenyawaan fosfat anorganik yang terdapat pada pupuk. Pencemaran ini membuat air disungai menjadi bau. Bau busuk ini berasal dari gas NH3 dan H2S yang berasal dari peruraian bakteri anaerob. Air sungai yang tercemar sulit dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Dampak yang ditimbulkan akibat limbah detergen :
A.    Air sungai yang tercemar limbah deterjen berakibat buruk bagi flora dan fauna yang hidup di sungai.
B.     Ikan dan tumbuhan yang ada di sungai dapat mati karena ekosistem tempat hidup mereka tercemar.
C.     Zat yang terdapat dalam limbah deterjen dapat memacu pertumbuhan eceng gondok dan gulma air sehingga dapat mengakibatkan ledakan jumlah tanaman tersebut.
Ledakan jumlah tanaman tersebut akan mengakibatkan pendangkalan dan menyumbat aliran air sungai. Tanaman yang menutupi permukaan air akan menghambat masuknya sinar matahari dan oksigen ke air. Hal ini akan berdampak pada kualitas air dan ikan-ikan menjadi sulit untuk bertahan hidup.
D.    Penelitian juga menunjukkan bahwa deterjen mempunyai pengaruh terhadap flora dan fauna yang hidup di sungai. Deterjen anionik bersifat lebih toksik terhadap udang air (Gammarus polex) dibandingkan dengan deterjen kationik atau nonionik. Sedangkan ikan lebih sensitif terhadap pengaruh deterjen nonionik atau deterjen kationik dibandingkan dengan deterjen anionik (Damin Sumardjo, 2008: 631).
E.     Deterjen dapat membentuk banyak busa dalam air dan banyak jenis deterjen sukar sekali diuraikan oleh enzim-enzim bakteri pengurai sehingga akan tetap utuh dan berbusa.
F.      Limbah deterjen yang tidak dapat diurai dalam waktu yang singkat ini menyebabkan polusi udara karena baunya yang tidak sedap.
Menurut Petra Widmer dan Heinz Frick (2007: 42), deterjen terurai dalam hitungan minggu hingga bulanan sedangkan persyaratan ekolabel memberikan jangka waktu peruraian limbah deterjen di lingkungan alam hanya dua hari.
G.    Deterjen dalam air buangan dapat meresap ke air tanah atau sumur-sumur di masyarakat.
Air yang tercemar limbah deterjen tidak baik bagi kesehatan karena dapat menyebabkan kanker. Kanker ini diakibatkan oleh menumpuknya surfaktan di dalam tubuh manusia.

Bahan lain yang terkandung dalam deterjen adalah filler (pengisi). Filler adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contoh Sodium sulfat. Sedangkan aditif adalah bahan suplemen/tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna. Bahan aditif ini sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Aditif ditambahkan untuk komersialisasi produk/agar produk dapat menarik perhatian konsumen. Contoh dari aditif adalah enzim, boraks, Natrium klorida, Carboxy methyl cellulose (CMC). Sayangnya diantara zat-zat tersebut ada yang tak bisa dihancurkan oleh mikroorganisme sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan. Limbah detergen juga menyebabkan pencemaran tanah yang menurunkan kualitas kesuburan tanah yang mengakibatkan tanaman serta hidupan tanah termasuk cacing mati. Padahal cacing berfungsi untuk menguraikan limbah organik, non organik & menyuburkan tanah.

                                                                                              V.     Penetapan Kadar Detergen dan Sabun dalam Air

A.      Parameter Penetapan Kadar Detegen dan Sabun :
Parameter-parameter yang dilakukan untuk mengetahui kualitas dari deterjen adalah sebagai berikut:
1.      Fisik
Uji ini merupakan uji tampilan fisik dari powder deterjen dan kesesuaian penggunaan jenis bahan aditif seperti speckle atau needle dalam deterjen.
2.      Odour
Uji ini merupakan uji terhadap kesesuaian dan kecukupan penggunaan parfum dalam deterjen. Uji ini dilakukan dengan menggunakan indera penciuman.
3.      Whiteness
Uji fisik untuk menentukan kecerahan warna powder pada deterjen. Uji ini dilakukan dengan menggunakan alat whiteness.
4.      BD (Bulk Density)
Berat jenis dari deterjen ditetapkan menggunakan alat BD (Bulk Density).
5.      MC (Moisture Content)
Uji ini merupakan penentuan kadar air yang terdapat dalam deterjen yang diuji menggunakan alat MC (Moisture Content) yang telah diset pada suhu 105 ºC .
6.      TR (Temperature Rise)
TR adalah uji kenaikan temperatur saat deterjen dilarutkan di dalam air. Temperatur yang diukur adalahdelta (Δ) dari perubahan suhu yang terjadi antara suhu deterjen yang dilarutkan dalam air-suhu air.
7.      Karbonat
Penentuan karbonat ini dapat dilakukan melalui dua metode yaitu metode titrasi dan metode gas.Namun, metode yang digunakan adalah metode gas. Karbonat juga memegang peranan yang cukup penting dalam menyangga pH dari deterjen.
8.      Total Fosfat
Total fosfat yang terkandung dalam deterjen ini ditetapkan dengan menggunakan instrumen skalar dengan prinsip spektrofotometri. Total fosfat yang digunakan adalah dalam bentuk senyawa STPP (Sodium Tripoly Phospate) yang berguna untuk mengikat ion-ion penyebab kesadahan air pada deterjen. Umumnya fosfat yang digunakan dalam deterjen berkisar antara 30-50 %.
9.      Aktif deterjen
Aktif deterjen merupakan salah satu parameter terpenting dalam penentuan kualitas deterjen karena aktif deterjen adalah zat yang menentukan proses pembersihan pada deterjen. Aktif deterjen ditentukan dengancara titrasi menggunakan metode hiamin.
10.  Aktivitas enzim
Aktivitas enzim dalam deterjen ditentukan dengan menggunakan metode spektrofotometri dari instrumen Konelab. Penggunaan enzim dalam deterjen dapat meningkatkan daya kerja deterjen.



B.       Penetapan Kadar Sufraktan :
Surfaktan yang berperan sebagai aktif deterjen (LAS) yang terkandung dalam deterjen adalah kadar yang diukur sebagai aktif deterjen.
Reaksi yang terjadi dalam penetapan aktif deterjen adalah sebagai berikut:
R’-SO3- Na+ + R4N+ Cl- àR’-SO3NR4 + NaCl
Keterangan:
R’ : Rantai cabang
R4N+ : Hiamin Ion

Analisis aktif deterjen dapat dilakukan melalui beberapa metode, diantaranya:
1.      Metode Metilen Biru
Metode ini membahas tentang perpindahan metilen biru yaitu larutan kationik dari larutan air ke dalam larutan organik yang tidak dapat campur dengan air sampai pada titik jenuh (keseimbangan). Hal ini terjadi melalui formasi (ikatan) pasangan ion antara anion dari MBAS (methylene blue active substances) dan kation dari metilen biru. Intensitas warna biru yang dihasilkan dalam fase organik merupakan ukuran dari MBAS (sebanding dengan jumlah surfaktan).
Surfaktan anion adalah salah satu dari zat yang paling penting, alami dan sintetik yang menunjukkan aktifitas dari metilen biru. Metode MBAS berguna sebagai penentuan kandungan surfaktan anion dari air dan limbah, tetapi kemungkin adanya bentuk lain dari MBAS (selain interaksi antara metilen biru dan surfaktan anion) harus selalu diperhatikan.
Metode ini relatif sangat sederhana dan pasti. Inti dari metode MBAS ini ada 3 secara berurutan yaitu: Ekstraksi metilen biru dengan surfaktan anion dari media larutan air ke dalam kloroform (CHCl3) kemudian diikuti terpisahnya antara fase air dan organik dan pengukuran warna biru dalam CHCl3 dengan menggunakan alat spektrofotometri pada panjang gelombang 652 nm (Franson, 1992). Batas deteksi surfaktan anion menggunakan pereaksi pengomplek metilen biru sebesar 0,026 mg/L, dengan rata-rata persen perolehan kembali 92,3% (Rudi dkk., 2004).
Prosedur Kerja
a.    Pembuatan Kurva Kalibrasi
1)      Larutan induk detergent diambil sebanyak 0, 250, 500, 750 dan 1000 mL dan dimasukkan ke dalam labu ukur 500 mL, ditambahkan air suling hingga tanda tera, kemudian diaduk hingga homogen. Diperoleh kadar 0,00; 0,2; 0,4; 1,0; 1,2 dan 2,0 mg/L MBAS.
2)      Larutan baku diambil dengan volum masing – masing 100 mL dan dimasukkan ke dalam corong pemisah 30 mL.
3)      Ditambahkan larutan biru methylene sebanyak 25mL.
4)      Ditambahkan 10 mL CHCl3 , digojog kuat – kuat selama 30 detik , sekali kali buka tutup corong untuk mengeluarkan gas.
5)      Didiamkan hingga terjadi pemisahan fase, corong pemisah digoyang perlahan-lahan, jika terbentuk emulsi, tambahkan sedikit isopropil alkohol (10 mL), lapisan bawah (CHCl3) dikeluarkan dan ditampung dalam corong pemisah lain.
6)      Ekstraksi diulangi seperti butir 4 dan 5 sebanyak 2 kali dan larutan ekstrak digabung dengan larutan ekstrak pada butir 5.
7)      Ditambahkan 50 mL larutan pencuci ke dalam larutan ekstrak (kloroform gabungan) dan digojog kuat – kuat selama 30 detik.
8)      Didiamkan sampai terjadi pemisahan fase, corong digoyangkan perlahan – lahan, lapisan bawah (Chloroform) dikeluarkan melalui serabut kaca, dimasukkan ke dalam labu ukur (jaga agar lapisan air tidak terbawa).
9)      Ekstraksi diulangi terhadap larutan pencuci dengan kloroform seperti butir 4 dan 5 sebanyak 2 kali.
10)  Serabut kaca dicuci dengan kloroform sebanyak 5 mL dan digabung dengan larutan ekstrak diatas.
11)  Larutan ekstrak dimasukkan kedalam labu ukur 50 mL dan ditambahkan kloroform sampai tanda tera.
12)  Larutan ekstrak dimasukkan kedalam cuvet pada alat spektrofotometer , dibaca dan dicatat absorbansinya pada panjang gelombang 652 nm, pembacaan dilakukan tidak lebih dari 3 jam setelah ektraksi.
13)  Apabila perbedaan hasil pengukuran serapan masuk secara duplo lebih besar dari 2% periksa alat dan ulangi pekerjaan dari langkah awal, apabila lebih kecilatau sama dengan 2% , rata – ratakan hasil.
14)  Kurva kalibrasi dibuat dari data 13 dan ditentukan persamaan garisnya.





b.    Prosedur Uji Kadar Surfaktan
1)      Sampel diambil masing – masing 100 mL dan dimasukkan ke dalam corong pemisah 500 mL.
2)      Ditambahkan larutan biru methylene sebanyak 25 mL.
3)      Ditambahkan 50 mL kloroform , digojog kuat – kuat selama 30 detik , sekali kali buka tutup corong untuk mengeluarkan gas.
4)      Didiamkan hingga terjadi pemisahan fase, corong pemisah digoyangkan perlahan – lahan.
5)      Ditambahkan 50 mL larutan pencuci ke dalam larutan ekstrak (kloroform gabungan) dan digojog kuat – kuat selama 30 detik.
6)      Didiamkan sampai terjadi pemisahan fase, digoyang perlahan – lahan , lapisan bawah (kloroform) dikeluarkan melalui serabut kaca, dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 mL (jaga agar lapisan air tidak terbawa).
7)      Larutan ekstrak dimasukkan ke dalam kuvet pada alat spektrofotometer , dibacan dan dicatat absorbansinya pada panjang gelombang 652 nm, pembacaan dilakukan tidak lebih dari 3 jam setelah ektraksi.

2.      Metode Potensiometri
Metode ini berdasarkan pada terjadinya kesetimbangan tegangan pada dua larutan (two potentiometric equivalence points). Kesetimbangan pertama terjadi ketika asam sulfonat ternetralisasi bersama dengan terputusnya asam sulfat. Kesetimbangan kedua ternetralisasinya asam sulfat. Dimana kadar dari sulfat dan asam sulfonat dapat ditentukan dan keasaman (total acidity) dihitung sebagai mg KOH/g yang dibutuhkan untuk menetralkannya. Analisa ini hanya dapat dilakukan pada surfaktan yangmempunyai kadar air maksimum 2 %.
3.      Metode Hiamin
Prinsip dasar dari metode ini adalah Dimidium bromida yang bereaksi dengan anionik surfaktan menghasilkan garam yang larut dalam diklorometana dan membentuk larutan warna merah muda. Kelebihan dari hiamin bereaksi dengan disulphin blue lalu menghasilkan garam yang juga larut dalam diklorometana membentuk larutan berwarna biru.
4.      Metode Spektrofotometer UV-Vis
Prinsipnya adalah surfaktan anion akan berikatan dengan metilen biru membentuk senyawa kompleks berwarna biru yang larut dalam fase kloroform ketika diekstraksi dan dibaca konsentrasinya menggunakan spektrofotometer UV-VIS pada panjang gelombang 675 nm.
Absorbansi suatu zat menunjukkan kemampuan dari zat tersebut untuk menyerap radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang maksimum. Konsentrasi adalah jumlah zat terlarut dalam setiap satuan larutan atau pelarut. Absorbansi yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi larutan standar yaitu semakin besar konsentrasi yang digunakan, maka absorbansinya juga semakin besar. Setelah dilakukan penentuan kurva kalibrasi larutan standar MBAS maka didapatkan nilai regresi. Regresi dapat digunakan untuk analisis jika nilai regresi tersebut mendekati 1 atau > 0,95 maka dapat dikatakan bahwa hasil dari pembuatan larutan standar memiliki tingkat keakuratan yang baik.
Dilakukan penentuan kadar MBAS dalam air limbah sehingga diperoleh data konsentrasi MBAS dalam sampel. Dari data tersebut kemudian dilakukan standar pengujian atau IQC (Internal Quality Control) yaitu dengan menghitung harga RPD dan Recoverinya ini merupakan standar pengujian yang diberlakukan di laboratorium BBTPPI. Penghitungan Recovery dilakukan untuk mengetahui tingkat keakuratan data yang diperoleh pada kesesuaian antara hasil uji dengan perolehan kembali dari standar yang ditambahkan agar mengetahui efek matriks pada sampel yang dapat dikatakan sebagai tingkat akurasi, sedangkan RPD dibuat untuk mengetahui presisi atau ketelitian data yang diperoleh pada pengukuran sampel, presisi yang baik akan memberikan standar deviasi yang kecil dan bias yang rendah (Tahrir, 2008).
Dalam analisis penentuan kadar surfaktan anion  diperoleh hasil bahwa kadar surfaktan anion atau deterjen pada semua sampel limbah yang dianalisis masih memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan oleh Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 Tahun 2004, yakni dibawah 5 mg/L air limbah.


                                                                                                                                                           VI.     Penanganan
Adanya limbah sabun dan detergen menyebabkan pencemaran pada air yang kita gunakan sehari-hari, sehingga akumulasi limbah menyebabkan meningkatnya COD, BOD, dan permangant. Pengelolaan yang tepat adalah menggunakan teknik biologi. Seperti yang telah kita ketahui bahwa peningkatan kadar COD, BOD, ataupun permanganat ada hubungannya dengan mikroorganisme yang ada didalamnya.
Limbah sabun atau detergen hendaknya tidak dibuang pada pembuangan septik tank, karena limbah dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk pada septik tank. Cara paling sederhana untuk menampung limbah-limbah tersebut yaitu pada suatu tempat penampung atau selokan yang pada tempat tersebut ditanami tanaman air yang dapat menyerap zat pencemar seperti: jaringao, Pontederia cordata (bunga ungu), lidi air, futoy ruas, Thypa angustifolia (bunga coklat), melati air, dan lili air. Akan tetapi cara ini sederhana karena tanaman air memiliki batas kemampuan untuk menyerap zat pengotor, selain itu juga tidak bisa menyerap lemak dan sampah dapur yang ikut terbuang.

Selain limbah yang kita olah, dari kita sendiri pun harus tetap memperhatikan gaya hidup yang kita lakukan untuk meminimalisir limbah sabun maupun  detergen yang kita hasilkan, diantaranya :
1.    Menggunakan sabun dan detergen secukupnya.
2.    Memilih selektif sabun dan detergen yang akan kita gunakan.
3.    Membuang limbah sabun dan detergen tidak sembarangan.



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar